Posisiterbaik untuk menanam pohon tebu ireng disarankan di depan rumah dan diletakkan selayaknya pagar, selain mampu menangkal hal-hal gaib, pohon ini juga dapat memperlihatkan kesan estetik dan Kisahramalan Tebu Ireng terjadi jauh sebelum pesantren ini berdiri, sekitar ditahun 1899. Awalnya disebutkan bahwa ada seorang waliyullah yang datang, sebelumnya tak ada yang mengetahui siapa sosok ini, dari mana dan mau kemana tidak ada yang tahu.. Baca Juga: Guyonan Gus Dur, Ini Agama yang Paling Dekat Dengan Tuhan Sosok Wali itu datang Pelatihandiwarnai dengan suasana yang seru dan meriah. Modul-modul yang sebenarnya “berat” yakni tentang Perspektif Kemanusiaan, Pembatasan dalam Konflik Bersenjata, Hukum Humaniter Internasional di Lapangan, Menangani Pelanggaran dan Merespons Konsekuensi Konflik Bersenjata disampaikan lewat diskusi interaktif dan permainan-permainan Hadrahsantri pesantren Tebu Ireng. Sorogan kitab kuning di pesantren Tebu Ireng Alamat Jl. Irian Jaya 10 Tebuireng, Kab. Jombang, Jawa Timur Telepon: (0321) 3136-867866 Untuk info pendaftaran : Untuk Berpartisipasi Memperbarui informasi ini silahkan, Mengirim email ke redaksi@laduni.id . Satu dari sekian tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama NU yang layak disematkan gelar pahlawan adalah KH Masjkur baca Masykur. Kiai Masjkur yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI ini ikut berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah dan terdaftar sebagai salah satu “the founding father”. Perjuangan ulama yang lahir di Singosari Malang tahun 1899 M/1315 H ini telah dirintis sejak usia muda di bidang pendidikan, dengan mendirikan Pesantren Misbahul Wathan. Namun, sebelum mendirikan pesantren dan terjun ke masyarakat, Masjkur muda terlebih dahulu telah mempersiapkan modal awal bagi dirinya sendiri, dengan mengenyam pelajaran agama di beberapa pesantren dengan berbagai konsentrasi keilmuan, antara lain Pesantren Kresek Cibatu, Pesantren Bungkuk Malang di bawah asuhan Kiai Thohir, Pesantren Sono Bundaran Sidoarjo untuk belajar nahwu sharaf dan di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo untuk memperdalam ilmu fiqih. Kemudian, di Tebu Ireng Jombang, ia menimba ilmu hadist dan tafsir dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Selain itu, Masjkur muda juga pernah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Maka lengkap sudah, modal awal yang dimilikinya untuk menjadi seorang calon ulama dan pemimpin umat. Ia juga sempat menjadi santri di Pesantren Jamsaren Surakarta, di bawah asuhan KH Idris, seorang kiai keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di pesantren ini pula, ia bertemu dengan kawan-kawannya yang kelak juga menjadi pemimpin umat, antara lain KH Mustain Tuban, KH Arwani Amin Kudus dan sebagainya. Sifat Kiai Idris yang terkenal non-kooperatif terhadap Belanda, ikut tertanam dalam jiwa sang murid, yang sedikit banyak mulai memahami arti penting perjuangan. Mendirikan Pesantren Setelah melanglangbuana ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, ia kembali ke Singosari dan di sana ia membuka pesantren yang diberi nama Misbahul Wathan Pelita Tanah Air pada tahun 1923. Beberapa tahun berikutnya, ketika Nahdlatul Ulama berdiri, ia pun ikut aktif di dalamnya, dan di tahun 1932 ia sudah menjadi Ketua Cabang NU Kota Malang. Di organisasi tersebut, ia sering meminta nasihat kepada KH Wahab Chasbullah. Salah satunya, ketika pesantren yang ia pimpin sering mendapat gangguan dari pemerintah kolonial. Atas saran Kiai Wahab pula, ia kemudian mengganti nama pesantrennya menjadi Nahdlatul Wathan Kebangkitan Tanah Air. Sebelumnya, bersama Kiai Wahab, Kiai Masjkur juga sering mengikuti kegiatan kelompok Tashwirul Afkar yang sering membahas agama, dakwah dan sosial. Pada tahun 1938, Masjkur diangkat sebagai salah satu Pengurus Besar NU yang berkedudukan pusat di Surabaya. Perjuangan Perang Keinginan untuk terbebas dari belenggu penjajahan, membuat para putera bangsa ini ikut mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan. Termasuk, Kiai Masjkur yang kala itu masih aktif sebagai seorang pengajar di Nahdlatul Wathan dan aktivis NU. Pada zaman pendudukan Jepang, Masjkur menjadi utusan dari Karesidenan Malang untuk mengikuti latihan kemiliteran di Bogor, disusul dengan latihan khusus bagi ulama. Dari itulah, “karirnya” di bidang militer dimulai. Ia berjuang bersama pasukan Hizbullah. Hingga, sejak 1945-1947 ia diangkat menjadi Ketua Markas Tertinggi Sub. Bagian Sabilillah yang berpusat di Kota Malang. Belakangan, ia juga ikut dimasukkan dalam Dewan Pertahanan Negara dan anggota Konstituante. Dalam suasana perang yang tengah berkecamuk, Masjkur beberapa kali dipercaya untuk mengemban amanah Menteri Agama Menag, secara berturut-turut pada Kabinet Amir Syarifuddin 1947, Kabinet Presidenssil Moh. Hatta 1948, Kabinet VII Negara RI, Kabinet Darurat dan Komisariat PDRI 1949, Kabinet Hatta 1949 dan Kabinet Peralihan RI. Ia sempat mundur dari posisi Menag, karena sakit-sakitan akibat bergerilya. Pada masa Kabinet Ali-Arifin 1953-1955 ia kembali dipercaya untuk menjadi Menag. Alhasil, ketika menjadi seorang menteri, ia juga ikut bergerilya bersama para pejuang lainnya pernah pula bergabung bersama kelompok gerilyawan yang dipimpin Panglima Besar Soedirman, sembari tetap mengatur jalannya kementrian yang ia pimpin, mulai dari soal instruksi serta peraturan darurat. Kemudian juga menyusun KUA, pengadilan agama, pendidikan, madrasah, mengatur shalat, dan membantu secara nyata perjuangan nasional. Sebagai Menag, tiap bulan ia mendapat gaji Rp. 300 Oeang Repoeblik Indonesia ORI, jumlah uang yang saat itu cukup untuk makan sekeluarga selama sepekan. Saat kembali menjadi Menag, di tahun 1954 Kiai Masjkur memprakarsai Konferensi Ulama yang diadakan di Cipanas Jawa Barat. Pertemuan para ulama tersebut, salah satunya menetapkan gelar “Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah” pemegang pemerintahan dalam keadaan darurat dengan kekuasaan penuh untuk Presiden Soekarno. Penetapan tersebut berdasar pada pertimbangan syara’, yakni Presiden RI saat itu terpilih belum memperoleh “baiat” dari rakyat karena tidak dipilih melalui Pemilu. Penetapan itu sekaligus menghapus kecurigaan dari golongan tertentu, apakah umat Islam Indonesia mengakui kepemimpinan Soekarno RI atau Kartosuwiryo DI/TII. Memimpin NU September 1951, menjelang dilaksanakannya Muktamar NU ke-19 yang akan dihelat di Palembang, Saat itu NU masih masuk dalam Masyumi, PBNU membentuk sebuah badan yang bernama Majelis Pertimbangan Politik MPP PBNU, terdiri dari 9 ulama, termasuk di dalamnya Kiai Masjkur. Badan tersebut dibentuk dalam sebuah rapat PBNU yang diadakan di sebuah rumah milik KH Abdulmukti, Jl. Slamet Riyadi 45 Solo. Kemudian, Muktamar NU ke-19 digelar 26 April – 1 Mei 1952 dan menghasilkan sebuah keputusan penting NU memisahkan diri dari Masyumi! Sejak Muktamar NU ke-19, Kiai Masjkur memimpin NU sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. bersama KH Wahid Hasyim yang menjadi Ketua Muda. Sedangkan posisi Rais Aam masih dipegang KH Wahab Chasbullah. Namun, setelah wafatnya KH Wahid Hasyim serta diangkatnya KH Masjkur kembali menjadi Menteri Agama, maka PB Tanfidziyah sehari-hari dipimpin oleh KH M Dahlan. Kiai Masjkur terus berjuang bersama NU hingga akhir hayatnya. Tercatat selepas menjadi ketua, ia tetap aktif di kepengurusan PBNU yakni anggota tanfidziyah 1954-1956, Ketua Fraksi Konstituante Partai NU 1956-1959, Ketua Sarbumusi 1959-1962, Rais Syuriyah 1967-1971, 1971-1979 dan Mustasyar 1984-1989, 1989-1994. Hingga wafat pada tahun 1992, Kiai Maskjur masih tercatat dalam kepengurusan Mustasyar PBNU. Kiai Masjkur dimakamkan di pemakaman yang terletak di kompleks Masjid Bungkuk Singosari Malang, yang juga terdapat makam KH Nahrawi Thohir dan Kiai Thohir. Lahumul-fatihah!

amalan ilmu tebu ireng